Merupekan wadah inovasi L2PTS serta pengembangan model pembelajaran Matematika Realistik. Notaris : H. Budi Suyono, SH. Nomor Akte / Tanggal : 68 / 31 Oktober 2011. Dibentuk berdasarkan surat keputusan pemilik, Nomor: XI /L2PTS/Pemilik/XI/2012, tanggal 17 November 2012 bertepatan 3 Muharram 1434 H hari Jumat. Motto: Inovasi Tiada Henti
Minggu, 19 Mei 2013
Minggu, 12 Mei 2013
Dra. ASMIDA, M. Pd; Perlunya Memupuk Rasa Tanggung Jawab Sejak Kecil (Usia Dini)
Perlunya Memupuk Rasa Tanggung Jawab
Sejak Kecil (Usia Dini)
Oleh:
Dra. ASMIDA, M. Pd[1]
Melihat
berbagai fenomena masyarakat akhir-akhir ini, yang cendrung membuat pembenaran
atau menyatakan diri benar, serta
memaksakan kebenaran tersebut pada orang lain dengan berbagai cara, rupenye
juge tak luput dari pengamatan bu wiwik maupun pak edwin, yang penulis tangkap
secara tidak langsung dalam pembicaraan singkat beberape saat disela waktu
senggang beberape waktu lalu. Hal tersebut membuat penulis bertanya tanya dan
berandai andai berbagai penyebab dari fenomena yang semakin marak di negara
ini.
Kejadian
tersebut pernah pak edwin tanyekan dengan penulis lebih tepatnye diskusi
singkat sambil menunggu kawan-kawan selesai isoma yang tinggal beberape menit, hari
itu cuaca sangat panas dan benar-benar tidak bersahabat dikota panas 9 April
2013, yang semakin panas.
Beberape
hal yang kami diskusikan diantarenye tentang hiruk pikuknye beragam berita yang
terus diulang-ulang tanpa solusi, sehingga menjadi suatu pendidikan politik
yang akhirnya menurut hemat penulis akan menjadi politik pendidikan. Namun yang
mengherankan begitu banyak fenomena yang terjadi tidak mampu secara umum disikapi
oleh berbagai kalangan masyarakat apapun kelasnya dengan bijaksana, mereka seperti
hilang kendali cendrung menyalahkan orang lain tanpa koreksi. Mungkin salah
satu penyebabnya menurut pengamatan penulis adalah kurangnya pembelajaran
bertanggung jawab sejak kecil yang ditanamkan pendidik khususnya orang tua, yang
mungkin tanpa mereka sadari telah menanamkan pembelajaran awal kepada anak,
untuk cendrung menyalahkan orang lain. Kite seakan tidak mampu belajar dari
berbagai pengalaman.
Pengalaman
adalah guru yang terbaik. Kalimat ini selalu kita dengar, dan tidak asing
dipendengaran kita, namun sayang kalimat
tersebut tak mampu kita cermati untuk bergerak ke masa depan untuk mengambil
yang positifnya. Pengalaman yang kita peroleh baik dari diri sendiri maupun
dari hasil pengamatan dari orang lain tidak pernah benar - benar kite pahami untuk
mengambil hal yang terbaik.
Hal
tersebut senada dengan yang diungkapkan Drs. Sudarsono, SH., M.Si, yang
menyatekan pengalaman merupakan keseluruhan atau totalitas segala pengamatan,
yang disimpan di dalam ingatan dan digabungkan dengan suatu pengharapan akan
masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa yang lampau[2].
Penulis
ingin mengambil beberapa contoh, yang sering terjadi disekeliling kite dan
hampir turun temurun berbagai generasi, yang mungkin pernah kite alami, berikut
beberape contoh kecil yang salah satunya seperti yang dikemukakan oleh pak edwin
yang penulis rangkum seperti kalimat berikut,“ saat anak terantuk kursi atau
meja saat berlarian dalam proses bermainnya, orang tua cendrung mengatakan ”ooo
kursi ni jahat, pukul kursi”, kursi yang disalahkan padahal orang tua atau
keluarga tau bahwa sianak tidak berhati-hati, begitu pula sianak mengetahui dia
yang melanggar kursi. Apalah salahnya dibilang hati-hati jadi masa akan datang
anak lebih waspada saat bermain dalam kondisi yang membahayakan, iyakan mbak,
begitu biasanya pak edwin memanggil penulis.
Contoh
lainnya yang sering kite temui misal saat seorang anak tanpa sadar tibe-tibe
tekentut apelagi saat makan, lantas anggota keluarga yang terkejut hampir
serentak menyatakan “ lantai tekentut uuuu pukul lantai, semue memukul lantai”,
mungkin maksud pendidik (orang tua, kakak, abang, mak cik dsbnya) supaya sianak
jangan menangis atau malu dihadapan orang banyak, sehingga diputuskan lebih
bagus menyalahkan lantai. Lagi-lagi keputusan yang salah.
Contoh
lainnya saat seorang anak yang sedang lasak-lasaknya dengan keinginantahuan
yang kuat mengambil minum sendiri seperti biasanya, namun hari itu salah
seorang pendidik sangat kuatir (wajar mengingat sianak memakai gelas kaca), yang dikuatirkan bukan masalah
gelas yang takut pecah, tapi lebih pade akibat yang ditimbulkan yaitu terluke
tangan dan sebagainye. Namun hal tersebut menyebabkan sianak terlampau kuat memegang
gelas kemudian berlari lari dengan membawa gelas yang akhirnya terantuk dan
pecah. Melihat kejadian itu sianak menoleh ke pendidik (misal: orang tua)
dengan muka terkejut, namun apa yang dia dapat lagi-lagi pendidik menyalahkan gelas,
oooo gelas ni jahat….. pukul gelas.
Beberape
contoh diatas merupekan kebiasaan sehari-hari yang menjadi pembiasaan, yang
dilakukan pendidik yang tidak menyadari akibat kedepan dari perilaku tersebut,
namun seiring dengan perjalanan waktu dan kejadian tersebut terus diulang oleh
orang tua khususnye, walau dalam konteks yang berbeda, tanpe disadari sangat
berpengaruh pade tindak tanduk atau perilaku seseorang seiring dengan
bertambahnya usia.
Tidak
bisa dihindari dari kebiasaan masa kanak-kanak, mase yang tidak ade beban, semue
disekeliling anak akan menyayangi, menyenangi dan cendrung mengaminkan tingkah
polah anak yang lucu menggemeskan. Tingkah polah seorang anak itu rasanya begitu
sulit bagi orang terdekat untuk melarang
dalam arti kata mendidik sesuai dengan umur sianak, perilaku sianak yang sudah
menjurus ke hal yang tidak baik sejak kecil tidak menutup kemungkinan akan
menjadi pembenaran saat mereka besar, mereka tidak tau mana yang salah dan mana
yang benar.
Selain
hal tersebut, tidak satu katanya pendidik khususnye orang tua menyebabkan
sianak terbelah, contoh sederhana pembelaan
ayah terhadap anak, saat dimarah oleh ibu atau sebaliknya pembelaan ibu
terhadap anak, saat dimarah oleh ayah, pembelaan nenek terhadap cucunye yang
kene marah dan sebagainye. Pertanyaannya
apakah salah ayah membela sianak? Atau apakah salah ibu membela sianak? Atau
apakah salah nenek atau kakek membela cucunye? Kite pasti sepakat jawabannya tentu
tidak, tapi yang salah menurut hemat penulis adalah caranya.
Hal
tersebut bermakna, kalau salah satu orang tua tidak mampu bersikap, buat
sementara lebih baik diam, mendengarkan pihak lain bicara. Jangan sampai
terjadi kesalahan sianak yang akan dibahas, malahan melebar kemana-mana menjadi
pertengkaran orang tua, sianak melenggang bebas tanpa solusi begitu seterusnye,
dan ingat hal tersebut pelajaran terbaru dalam otak sianak, untuk
mengkotak-kotakkan pendidik.
Contoh
berikut dapat dijadikan salah satu ilustrasi, waktu itu beberapa tahun yang
lalu, kemenakan penulis hen sedang berlibur kerumah, waktu itu aji kire-kire
umur 2 tahun lebih sedang lasak-lasaknye, die sangat aktif berlari disela sela
kursi, memanjat, main laptop dan sebagainye, biasalah anak-anak kalau diam aje
perlu dipertanyekan kecuali anak mundu[3].
Entah
bagaimane awal ceritenye saat itu penulis sedang membace koran seperti biasenye,
tau-tau sudah terdengar ayah aji marah,
tak seperti biase die semarah itu dan si ajipun tegopoh gopoh lari kepelukan penulis,
setelah hen kemenakan penulis becakap menegur kesalahan anaknye baru penulis
berucap, “ ngape aji tadi mmm, besok jangan buat lagi…” sambil memeluk dan menggoyangkan
badannye yang bulat seperti biase.
Pada
kesempatan yang lain kadang kadang die terantuk, penulis mengatekan hati-hati…siapelah
menyerakkan mainan tadi, sampai terjatuh orang ganteng ni ucap penulis berulang
ulang (penulis pura-pura tidak tau), sambil meminggirkan mainan yang berserak,
biasenye sambil menghapus air mate, die akan menggapai penulis dan menunjuk dirinye sendiri.
Contoh
diatas merupekan beberape kejadian yang sering pendidik (khususnya orang tua)
maupun orang terdekat di lingkungan si anak dalam menghadapi anak yang
melakukakan kesalahan, tanpa sengaja kemudian ditanggapi dengan cara yang salah
dengan maksud (mungkin) supaya anak jangan malu, atau menangis, akhirnya
menjadi pembiasaan pada sianak untuk cendrung menyalahkan orang lain atas
perbuatannye sendiri dalam pepatah melayu dikatekan “lempar batu sembunyi
tangan”. Kejadian demi kejadian tersebut akan terekam pada long term memorynya,
yaitu membenarkan yang salah atau tidak apa-apa kalau berbuat salah karena ade
orang lain yang akan disalahkan.
Pembiasaan
pada sianak tersebut berkemungkinan besar berlanjut hingga sianak remaja, hingga
dewasa saat mereka menjadi bahagian dari sistem di masyarakat dan selamanya mereka
tidak terbiasa berpikir, seperti pepatah orang-orang tua dulu “ alah bisa
karena biasa” kemudian ditambah lingkungan yang mendukung, mengakibatkan hal
tersebut menjadikan suatu pembenaran. Dengan demikian jangan heran berbagai permasalahan
yang tidak pakai henti dan tidak mampu disikapi secara arif, tidak bisa
dilepaskan dari berbagai contoh kasus yang nampaknya sederhana diatas.
Gambaran
diatas sangat sesuai dengan pepatah orang melayu yang mengatekan “dari kecik
teranjak anjak, sudah besar tebawak-bawak, sudah tue berubah tidak”. Pepatah
tersebut menurut penulis menggambarkan perilaku seseorang yang sudah terbiasa tidak
diajarkan bertanggung jawab sejak kecil, dibiarkan saja kalau berbuat salah dengan
berbagai alasan oleh pendidik, yang akhirnye akan menjadi masalah saat die
mulai tumbuh besar, yang mula-mula merusak tatanan mikro kemudian tidak menutup
kemungkin akan terbawa ke tatanan makro yaitu masyarakat dalam tatanan
luas.
Berikut
penulis ingin menyajikan intisari salah satu dongeng (judulnye penulis sudah
lupe), yang dibacakan ayah penulis (alm) H. Raja Muda Depang dan mak penulis (almh)
Hjh. Tengku Sribanun, puluhan tahun yang
lalu sebagai pengantar tidur, saat penulis kecil dulu di Selat Panjang, berikut
intisari nye yang cube penulis ingat, mudah-mudahan bisa jadi pembelajaran bagi
kite:
Suatu
hari dikisahkan ade seorang anak yang semue kehendaknye diturutkan oleh orang
tue, semakin sianak besar kebutuhannye tidak mampu dipenuhi lagi oleh orang
tue. Sianak mulai melakukan tindak kejahatan kecil-kecilan, mula-mula dia
mencuri yang kecil seperti korek api, rokok namun orang tue membiarkan atau
memaafkan. Kemudian berlanjut bertahun-tahun sampai yang besar, sampai akhirnye
pihak kepolisian sudah mencium kejadian tersebut.
Suatu
hari dikisahkan setelah aksi kejar-kejaran, die tercebur kedalam sungai, kemudian
tertangkap oleh polisi, saat dia akan dibawa kekantor polisi, die memohon agar
di jumpekan dengan ayahnye, polisipun mengabulkannye dengan pengawalan ketat.
Setelah sampai dirumah dengan tangan yang diborgol sianak langsung mendekati
ayahnye yang terkejut seakan tidak percaye, kemudian sianak menggigit telinge
sang ayah sambil berkate, “itulah ayah, tidak pernah mendidik aku dari kecil”,
kemudian polisi membawe die ketahanan untuk mempertanggung jawabkan
kesalahannnye.
Sekianlah
Pekanbaru,
9 April 2013 s.d 12 Mei 2013
[1] Biodata Singkat.
Dra. ASMIDA, M. Pd adalah Kandidat Doktor Manajemen
Pendidikan Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta; S-1 bidang
Pendidikan Matematika, FKIP UNRI, 1988; S-2 bidang Pendidikan Matematika, UPI
Bandung, 2009; Sekarang bertugas sebagai Staf Bidang Pengembangan Pendidikan
Luar Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru; Pemilik dan Pendiri L2PTS; Hobbi
menulis cerpen dan dongeng dimulai sejak tinggal di Bandung, disedikit waktu
senggang yang dimilki diantara kesibukan sebagai mahasiswa tugas belajar
Magister Bidang Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Bandung. Kumpulan cerpen dengan cover “Sepetang
Hatiku” dan beberape dongeng diantaranya “Kucing dan Harimau”, “Kancil dan anak Harimau”, “Pak Handi dan Mak
Handi” sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com. Selain
menulis cerpen dan dongeng, penulis juga menulis al: “Modul Integral Untuk Anak Paket C” sejak tahun 2009 akhir dan
selesai tahun 2012, dimana modul ini
merupakan edisi revisi dari beberapa modul Matematika dan Integral yang
ditulis sewaktu penulis masih menjadi pendidik, salah satu sub sudah di
publikasikan di http://l2pts.blogspot.com dan http://learningcenterasmida.blogspot.com. Terbaru sejak tahun 2010 sampai tahun 2012, menulis buku untuk
Kelompok Bermain Salah satu sub buku sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com/2012/06/dra-asmida-m-pd-matematika-sebagai-ilmu.html; Selain itu juga menulis artikel lepas, kumpulan artikel dengan cover “ Pekanbaru Menuju Kota 2 M?” sudah
dipublikasikan secara terpisah di http://l2pts.blogspot.com; Hobbi
lainnya al: fhotografi, menggambar abstrak, seni ukir, traveling, mendengarkan
musik. Tahun 2013 aktifitas lainnya selain menulis cerpen, artikel lepas serta
hobi lainnya, juga menulis materi tentang Irisan Bidang dengan Bangun Ruang,
yang merupakan revisi dari modul sebelumnya, beberape bahagian sudah di
publikasikan di http://learningcenterasmida.blogspot.com.
[2] Drs. Sudarsono, SH.,
M.Si, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar
(Jakarta: Rineka Cipta, 2008) h. 140.
[3]
Mundu istilah alm makku Hj. Tengku Sribanun menyebutkan kundu atau kundur
sejenis sayuran yang diam tak bergerak disudut dapur.
Rabu, 24 April 2013
Dra. ASMIDA, M. Pd; Dongeng :Pak Handi dan Hantu Kambeh
Dongeng
Anak Melayu Riau
Judul:
Pak Handi dan Hantu Kambeh[1]
(bahagian ke 2/Tamat)
Oleh:
Dra. ASMIDA, M. Pd[2]
Ringkasan cerite sebelumnye
Pada
kisah sebelumnye tentang pak handi dan mak handi telah di ceritekan tentang pak handi yang
pemalas dan menyalahkan kucing yang telah memakan gulai sempedas ikan yang
dicampur dengan kambeh dengan menelungkupkan kuali kekepale kucing, akibat ulah
pak handi itu kucing yang tak bersalah dibuang oleh mak handi dari rumah,
kucingpun bersedih dan meninggalkan mak handi yang tidak tau cerite sebetulnye.
Namun begitu kucing tidak marah dengan mak handi die tau mak handi baik dan
sangat penat balek dari bekerje sedangkan pak handi hanye bermalas-malasan.
Walau sudah terlambat akhirnye
mak handi tau juge perangai tak baik pak handi yang telah berbohong dan menyalahkan
kucing, diepun menyesal tak mengkoreksi dulu sebelum menghalau kucing yang
telah lame bersame mereke dirumah ladang. Mak handi sangat marah dengan pak handi
lakinye, “itulah jangan manai[3],
bekerje, banyak ladang orang yang perlu tenage untuk menebang, menebas untuk bukak
ladang” ujar mak handi panjang lebar. Pak handi memang tak dapat becakap lagi,
memang die sangat salah dengan mak handi yang udah mati-matian bekerje supaye
dapur mereke tetap berasap, diepun mengaku salah telah menuduh kucing makan
lauk satu kuali, padehal sebetulnye dielah kucing kepale hitam seperti yang
dicakap bininye[4]
tadi. Setelah kejadian itu pak handi lebih rajin dari biasenye, die sadar sudah
banyak salah dan menyusahkan mak handi.
Setelah beberape hari pak handi
mulai merasekan perutnye mulai sakit, ade yang mengganjal diperut tapi tak bisa
dikeluarkan, perutnye mulai melilit lilit tapi die tak bercerite dengan mak handi,
semakin hari semakin sakit, pak handi sudah mulai tak nyaman karena sudah lame
tak teberak[5]
sebab tidak bisa. Pak handi mulai risau, badannye mulai panas dingin mendemam,
die sudah tidak bisa berjalan seperti biase karene ade yang tertahan diduburnye.
Setelah beberape hari tidak ade perubahan pak pandipun tak sanggup lagi
bertahan, diepun mencari alasan untuk permisi dengan bininye mak handi,
akhirnye pak handipun dapat akal mau pergi dari rumah untuk bekerje di kapal
dagang yang kebetulan baru berlabuh disungai.
Pak handi: mak handi, mulai petang
ini aku akan pergi agak lamo untuk bekerje di kapal dagang yang baru sampai
semalam, tempatnye jauh diujung kampung kite ini.
Walau agak curiga, mimpi ape
pak handi caga[6]
menolong orang di kapal piki mak handi, tapi die setuju pak handi bekerje di
kapal dagang sementare menunggu mase menuai padi beberape bulan lagi.
Mak handi: Iyelah pak handi,
kalau sudah selesai menolong orang dagang tu cepat balek.
Pak handi: Iyelah mak handi,
kalau sudah selesai aku langsung balek.
Pak handipun dengan sesak napas
dan perut yang sakit cepat-cepat pergi meninggalkan rumah mereke ditepi ladang dan
berpurak-purak menuju ke kapal dagang yang berlabuh di tepi sungai, saat hari
sudah mulai gelap barulah pak handi berjalan menuju ujung ladang dan tinggal disitu.
Diujung ladang itulah pak handi
tinggal sambil menahan sakit dan berusahe supaye dapat teberak, rupenye tak
berhasil juge akhirnye pak handipun jatuh pingsan untuk sekian lame. Saking
lamenye tak sadar badan pak handipun telah ditutupi oleh pokok kambeh yang akhirnye
mulai berbuah.
Pade suatu hari lewatlah
beberape orang pedagang yang membawe dagangannye berupe kain, baju serta bahan
dagangan lain untuk mereke jual, melihat buah kambeh yang banyak dan sangat
lebat merekepun tertarik dan berebut mengambilnye, saking congok[7]nye
pedagang-pedagang itu sampai-sampai buah kambeh yang didasar tanahpun dan
tersembunyi dicabutnye dengan keras, sebab yang satu ini paling payah
mengambeknye tapi itu pulak buah kambeh yang paling besar, setelah berape kali
mencari cari akarnye akhirnye dapat juge buah kambeh tu. Tapi para pedagang itu
tidak tau dan tidak menyadari mereka telah mencabut akar pokok kambeh yang ade
didubur pak handi.
Pak handi:
(bagai terbangun dari tidur panjang) tepekik telolong[8] menjerit
kesakitan.
Mendengar
suare itu para pedagang kainpun berhamburan melarikan diri sambil
berteriak-teriak ketakutan.
Pedagang:
hantu kambeh..... hantu kambeh....... hantu kambeh..............ujar pedagang berlarian
ketakutan, mereke tidak lagi memikirkan barang-barang bawaannye semue berceceran.
Setelah
kejadian itu pak handipun lege karene yang mengganjal sudah keluar, setelah
membersihkan badan, dan mengganti pakaian pak handipun mengumpulkan seluruh barang
dagangan para pedagang yang tertinggal kemudian saat hari hampir malam pak handipun
balek kerumahnye dengan bergaya seolah-olah dari tempat jauh dengan barang
dagangan yang banyak.
Pak handi:
cepat mak handi tolong aku membawak masuk barang-barang ni, dikapal masih
banyak nanti mau aku jemput lagi.
Mak handi:
di kapal mane pak handi letakkan barang-barangnye.
Pak handi:
Kapal aku tambatkan diujung ladang, sekarang aku mau mengambil barang yang
lainnye.
Walau agak
heran dengan ucapan pak handi, tapi mak handi maklum mungkin pak handi sangat
penat jadi salah sebut apelagi begitu banyak barang yang dibawaknye. Setelah
pak handi mengambil semue dagangan yang masih tersise, merekepun mulai sibuk
mencube semue baju yang baru, dengan sombongnye pak handi membuang semue baju
yang buruk-buruk.
Tamat
Pekanbaru,
24 April s.d 25 April 2013.
[1] Mulai ditulis
tgl 26 November 2011, kemudian direvisi pade tgl 24 April 2013, selesai 25
April 2013.
[2] Biodata Singkat.
Dra. ASMIDA, M. Pd adalah Kandidat Doktor Manajemen
Pendidikan Universitas Negeri Jakarta; S-1 bidang Pendidikan Matematika, FKIP
UNRI, 1988; S-2 bidang Pendidikan Matematika, UPI Bandung, 2009; Sekarang
Bertugas Sebagai Staf Bidang Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah Dinas
Pendidikan Kota Pekanbaru; Pemilik dan Pendiri L2PTS; Hobbi menulis cerpen dan
dongeng dimulai sejak tinggal di Bandung, disedikit waktu senggang yang dimilki
diantara kesibukan sebagai mahasiswa tugas belajar Magister Bidang Pendidikan
Matematika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kumpulan cerpen
dengan cover “Sepetang Hatiku” dan
beberape dongeng diantaranya “Kucing dan
Harimau”, “Kancil dan anak Harimau”, “Pak Handi dan Mak Handi” sudah di
publikasikan di http://l2pts.blogspot.com. Selain
menulis cerpen dan dongeng, penulis juga menulis al: “Modul Integral Untuk Anak Paket C” sejak tahun 2009 akhir dan
selesai tahun 2012, dimana modul ini
merupakan edisi revisi dari beberapa modul Matematika dan Integral yang
ditulis sewaktu penulis masih menjadi pendidik, salah satu sub sudah di
publikasikan di http://l2pts.blogspot.com dan http://learningcenterasmida.blogspot.com. Terbaru sejak tahun 2010 sampai tahun 2012, menulis buku untuk
Kelompok Bermain Salah satu sub buku sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com/2012/06/dra-asmida-m-pd-matematika-sebagai-ilmu.html; Selain itu juga menulis artikel lepas, kumpulan artikel dengan cover “ Pekanbaru Menuju Kota 2 M?” sudah
dipublikasikan secara terpisah di http://l2pts.blogspot.com; Hobbi
lainnya al: fhotografi, menggambar abstrak, seni ukir, traveling, mendengarkan
musik. Tahun 2013 aktifitas lainnya selain menulis cerpen, artikel lepas serta
hobi lainnya, juga menulis materi tentang Irisan Bidang dengan Bangun Ruang,
yang merupakan revisi dari modul sebelumnya, di publikasikan di http://learningcenterasmida.blogspot.com.
[3] Manai bahase
melayu Selat panjang artinye sangat pemalas
[4] Bininye bahase
melayu Selat panjang artinye istrinye
[5] tak teberak
bahase melayu Selat panjang artinye tak kebelakang untuk buang air besar.
[6] Caga bahase
melayu kota lame artinye rajin.
[7] Congok bahase
melayu Selat Panjang untuk menyatekan rakus.
Selasa, 23 April 2013
Dra. ASMIDA, M. Pd; Cerpen: Entahlah pening
Cerpen[1]
Judul: Entahlah pening
Oleh:
Dra.
ASMIDA, M. Pd[2]
Tidak ade yang perlu dikomentari ujarku pade pak mail
yang heran melihat reaksiku saat semue orang sibuk berkomentar berbagai
kejadian di negeri ini seperti mulai melambung nye harga bawang putih dan
bawang merah dipasaran, perebutan menjadi ketua umum partai, masalah banjir
yang masih mengintai di berbagai daerah, belum lagi masalah ujian nasional yang
dari tahun ke tahun bagai tak henti menuai masalah dan berbagai masalah yang
bagai tak habis-habisnye merupakan topik berita yang menambah suhu politik
semakin menghangat, kejadian-kejadian tersebut tidak mampu disimak berbagai kalangan
apepun statusnye dengan penilaian yang mendekati objektif.
Berbagai macam tanggapan umumnye hanye berdasarkan
perasaan masing-masing tanpa memikirkan pandangan kedepan, yah…itulah pendapat
umum, yang ujung-ujungnye ke menggosip. Penat pak…, dari dulu itu aje yang
dipermasalahkan tapi kenyataannye? Ujarku dengan jawaban menggantung membuat
pak mail mengangguk-angguk mencoba memahami jawabanku, die termasuk tau bagaimane
aku yang memang tak banyak becakap kalau tak penting-penting betul.
As memang gitu ujar kak enda yang tibe-tibe dengan gaya
khasnye sudah didepan mate kami, kemudian die malanjutkan memang sejak dulu
macam itu kalau tak penting ye tak becakap, paling senyum sambil terus kerje,
pokoknye ade aje yang dikerjekannye, aku senyum aje mendengar komentar salah
seorang sahabat dekatku itu. Iye memang, as tu kalaupun berkomentar pasti menelaah
dalam berbagai sudut pandang kate mbak ira yang baru menyelesaikan makan
siangnye.
Suare mesin warga belajar di lpkmb2f terdengar
sayup-sayup dari sekretariat lentera membuat lamunanku beberape saat dikursi
malas terhenti, akhir-akhir ini aku lebih banyak beraktivitas di lentera. Rupenye
sudah ade warga belajar yang datang begitu pule suare sang instruktur yang
sedang membimbing warga belajarnya yang sudah mulai kewalahan karena materi
pelajaran semakin sulit.
Aku bergerak menuju ruang depan, diluar cuace mulai
mendung, perlahan rintik-rintik hujan mulai menyapa kota panas yang semakin
gelap diiringi suare petir yang kuat, aku cepat-cepat mematikan BB ku walau ade
BBM dari siti yang belum aku bace. Pasti ade sesuatu pikirku, nantilah aku
hubungi langsung aje pikirku, lagian aku kurang suke ber BBM ria.
Maaf tadi sengaje aku matikan BB, disini udah due hari
hujan lebat sudah tu petir kuat betul, kami semue dikantor tekejut tadi. Ya
Allah ngeri bunyinye, kau tau tak kemaren ade beberape orang kene tembak petir
saat sedang berteduh waktu balek bekerje, ade juge yang kene tembak petir saat sedang
memancing salah satunye keluarga kawan saye yang polisi ujarku panjang lebar
saat menelpon ulang siti yang sekarang bertugas diluar pulau jawa mengikuti suaminye
yang sudah duluan kesane.
Ya bu, paham aku, dah hapal….ibu tukan memang macam tu
dari dulu, sikit aje mulai gelap udah sibuk mematikan hp apelagi petir jawab
siti diujung telp kemudian kujawab hehehe…biaselah anak baik hehehe ape cerite,
memang awak dah mulai bertugas, tanyeku yang dijawab siti setelah beberape saat
dengan “sudah” tidak seperti biasenye.
Mengape melemah macam tu? Ujarku penasaran. Kasihan
pendidikan budak-budak[3] daerah
diluar jawa ini bu as, tidak seperti di Jawa yang fasilitasnye lengkap begitu
juge dengan guru-guru yang secara umum berkualitas, aku terbayang dan teringat
kate-kate ibu saat tidak setuju diadekannya Ujian Nasional (UN) beberape tahun
lalu, inilah salah satu sebabnye yang aku jumpe sekarang, ujar siti terdiam
sesaat. Sit jangan salah sampai sekarangpun saye tak setuju kalau untuk
kelulusan tapi saye setuju kalau dijadikan
salah satunye ajang untuk melihat pemetaan pendidikan di negara kite ni jawabku,
kemudian siti melanjutkan ceritenye, iye aku paham dan semakin paham kemarahan ibu
dulu tu saat aku sudah di daerah seperti ini dan aku yakin daerah lainnye
hampir senasib. Dulu aku tidak sampai kepola pikir ibu waktu itu.
Sekarang cubelah tengok, baru taukan keadaan diluar jawa
sekarang, saye sudah menengoknye sejak puluhan tahun yang lalu saat itu kau
mungkin baru lahir. Betape banyak anak-anak yang pergi sekolah dengan tak
bekasut[4],
apelagi membeli buku, mereke datang kesekolah setelah menolong orang tue di
ladang, aku termasuk yang membujuk mereke untuk sekolah dan ikut menjadi tenaga
pengajar di salah satu daerah yang katenye kaye tu. Ungtunglah sekarang sudah
otonomi daerah jadi pendidikan sudah berangsur nampak titik terang tapi
sayangnye itulah. Oh iye tapikan tak separah saye dulu tak, masih ingat awak cerite
tu.
Iye aku ingat ibu waktu itu mengajar murid-murid yang
telah menunggu di ruang belajar yang sangat tidak layak dengan sebuah papan tulis
usang dan sebuah buku pegangan, ujar siti mengingatkan perjuangan aku dan
beberape kawan waktu itu. Kau masih ingatkan care aku naik ke lantai atas untuk
mendidik murid-murid aku yang semangat itu? Tak akan pernah saye lupe sampai
kapanpun semangat ibu dan tak tebayang oleh saye seandainye saye pade posisi
ibu waktu itu. Bu as walau tak separah zaman ibu, namun sekarangpun masih ade kondisi
seperti itu mungkin konteksnye aje yang agak berbeda sikit, yah… macam mane hasil nak baik, itu pulak nak
dibandingkan dengan kota besar ujar siti
yang kujawab entahlah pening.
Sekianlah
Pekanbaru, 20 April s.d 23 April 2013.
[2] Biodata Singkat.
Dra. ASMIDA, M. Pd adalah Kandidat Doktor Manajemen
Pendidikan Universitas Negeri Jakarta; S-1 bidang Pendidikan Matematika, FKIP
UNRI, 1988; S-2 bidang Pendidikan Matematika, UPI Bandung, 2009; Sekarang
Bertugas Sebagai Staf Bidang Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah Dinas
Pendidikan Kota Pekanbaru; Pemilik dan Pendiri L2PTS; Hobbi menulis cerpen dan
dongeng dimulai sejak tinggal di Bandung, disedikit waktu senggang yang dimilki
diantara kesibukan sebagai mahasiswa tugas belajar Magister Bidang Pendidikan
Matematika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kumpulan cerpen
dengan cover “Sepetang Hatiku” dan
beberape dongeng diantaranya “Kucing dan
Harimau”, “Kancil dan anak Harimau”, “Pak Handi dan Mak Handi” sudah di
publikasikan di http://l2pts.blogspot.com. Selain
menulis cerpen dan dongeng, penulis juga menulis al: “Modul Integral Untuk Anak Paket C” sejak tahun 2009 akhir dan
selesai tahun 2012, dimana modul ini
merupakan edisi revisi dari beberapa modul Matematika dan Integral yang
ditulis sewaktu penulis masih menjadi pendidik, salah satu sub sudah di
publikasikan di http://l2pts.blogspot.com dan http://learningcenterasmida.blogspot.com. Terbaru sejak tahun 2010 sampai tahun 2012, menulis buku untuk
Kelompok Bermain Salah satu sub buku sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com/2012/06/dra-asmida-m-pd-matematika-sebagai-ilmu.html; Selain itu juga menulis artikel lepas, kumpulan artikel dengan cover “ Pekanbaru Menuju Kota 2 M?” sudah
dipublikasikan secara terpisah di http://l2pts.blogspot.com; Hobbi
lainnya al: fhotografi, menggambar abstrak, seni ukir, traveling, mendengarkan
musik. Tahun 2013 aktifitas lainnya selain menulis cerpen, artikel lepas serta
hobi lainnya, juga menulis materi tentang Irisan Bidang dengan Bangun Ruang,
yang merupakan revisi dari modul sebelumnya, di publikasikan di http://learningcenterasmida.blogspot.com.
[3] Budak-budak dalam bahase melayu artinye anak-anak.
Langganan:
Postingan (Atom)





