Minggu, 12 Mei 2013

Dra. ASMIDA, M. Pd; Perlunya Memupuk Rasa Tanggung Jawab Sejak Kecil (Usia Dini)



Perlunya Memupuk Rasa Tanggung Jawab Sejak Kecil (Usia Dini)
Oleh:
Dra. ASMIDA, M. Pd[1]

DSCF2049.JPGMelihat berbagai fenomena masyarakat akhir-akhir ini, yang cendrung membuat pembenaran atau  menyatakan diri benar, serta memaksakan kebenaran tersebut pada orang lain dengan berbagai cara, rupenye juge tak luput dari pengamatan bu wiwik maupun pak edwin, yang penulis tangkap secara tidak langsung dalam pembicaraan singkat beberape saat disela waktu senggang beberape waktu lalu. Hal tersebut membuat penulis bertanya tanya dan berandai andai berbagai penyebab dari fenomena yang semakin marak di negara ini.
Kejadian tersebut pernah pak edwin tanyekan dengan penulis lebih tepatnye diskusi singkat sambil menunggu kawan-kawan selesai isoma yang tinggal beberape menit, hari itu cuaca sangat panas dan benar-benar tidak bersahabat dikota panas 9 April 2013, yang semakin panas.
Beberape hal yang kami diskusikan diantarenye tentang hiruk pikuknye beragam berita yang terus diulang-ulang tanpa solusi, sehingga menjadi suatu pendidikan politik yang akhirnya menurut hemat penulis akan menjadi politik pendidikan. Namun yang mengherankan begitu banyak fenomena yang terjadi tidak mampu secara umum disikapi oleh berbagai kalangan masyarakat apapun kelasnya dengan bijaksana, mereka seperti hilang kendali cendrung menyalahkan orang lain tanpa koreksi. Mungkin salah satu penyebabnya menurut pengamatan penulis adalah kurangnya pembelajaran bertanggung jawab sejak kecil yang ditanamkan pendidik khususnya orang tua, yang mungkin tanpa mereka sadari telah menanamkan pembelajaran awal kepada anak, untuk cendrung menyalahkan orang lain. Kite seakan tidak mampu belajar dari berbagai pengalaman.
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Kalimat ini selalu kita dengar, dan tidak asing dipendengaran kita,  namun sayang kalimat tersebut tak mampu kita cermati untuk bergerak ke masa depan untuk mengambil yang positifnya. Pengalaman yang kita peroleh baik dari diri sendiri maupun dari hasil pengamatan dari orang lain tidak pernah benar - benar kite pahami untuk mengambil hal yang terbaik.
Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan Drs. Sudarsono, SH., M.Si, yang menyatekan pengalaman merupakan keseluruhan atau totalitas segala pengamatan, yang disimpan di dalam ingatan dan digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa yang lampau[2].
Penulis ingin mengambil beberapa contoh, yang sering terjadi disekeliling kite dan hampir turun temurun berbagai generasi, yang mungkin pernah kite alami, berikut beberape contoh kecil yang salah satunya seperti yang dikemukakan oleh pak edwin yang penulis rangkum seperti kalimat berikut,“ saat anak terantuk kursi atau meja saat berlarian dalam proses bermainnya, orang tua cendrung mengatakan ”ooo kursi ni jahat, pukul kursi”, kursi yang disalahkan padahal orang tua atau keluarga tau bahwa sianak tidak berhati-hati, begitu pula sianak mengetahui dia yang melanggar kursi. Apalah salahnya dibilang hati-hati jadi masa akan datang anak lebih waspada saat bermain dalam kondisi yang membahayakan, iyakan mbak, begitu biasanya pak edwin memanggil penulis.
Contoh lainnya yang sering kite temui misal saat seorang anak tanpa sadar tibe-tibe tekentut apelagi saat makan, lantas anggota keluarga yang terkejut hampir serentak menyatakan “ lantai tekentut uuuu pukul lantai, semue memukul lantai”, mungkin maksud pendidik (orang tua, kakak, abang, mak cik dsbnya) supaya sianak jangan menangis atau malu dihadapan orang banyak, sehingga diputuskan lebih bagus menyalahkan lantai. Lagi-lagi keputusan yang salah.
Contoh lainnya saat seorang anak yang sedang lasak-lasaknya dengan keinginantahuan yang kuat mengambil minum sendiri seperti biasanya, namun hari itu salah seorang pendidik sangat kuatir (wajar mengingat sianak memakai  gelas kaca), yang dikuatirkan bukan masalah gelas yang takut pecah, tapi lebih pade akibat yang ditimbulkan yaitu terluke tangan dan sebagainye. Namun hal tersebut menyebabkan sianak terlampau kuat memegang gelas kemudian berlari lari dengan membawa gelas yang akhirnya terantuk dan pecah. Melihat kejadian itu sianak menoleh ke pendidik (misal: orang tua) dengan muka terkejut, namun apa yang dia dapat lagi-lagi pendidik menyalahkan gelas, oooo gelas ni jahat….. pukul gelas.  
Beberape contoh diatas merupekan kebiasaan sehari-hari yang menjadi pembiasaan, yang dilakukan pendidik yang tidak menyadari akibat kedepan dari perilaku tersebut, namun seiring dengan perjalanan waktu dan kejadian tersebut terus diulang oleh orang tua khususnye, walau dalam konteks yang berbeda, tanpe disadari sangat berpengaruh pade tindak tanduk atau perilaku seseorang seiring dengan bertambahnya usia.
Tidak bisa dihindari dari kebiasaan masa kanak-kanak, mase yang tidak ade beban, semue disekeliling anak akan menyayangi, menyenangi dan cendrung mengaminkan tingkah polah anak yang lucu menggemeskan. Tingkah polah seorang anak itu rasanya begitu sulit bagi orang terdekat  untuk melarang dalam arti kata mendidik sesuai dengan umur sianak, perilaku sianak yang sudah menjurus ke hal yang tidak baik sejak kecil tidak menutup kemungkinan akan menjadi pembenaran saat mereka besar, mereka tidak tau mana yang salah dan mana yang benar.
Selain hal tersebut, tidak satu katanya pendidik khususnye orang tua menyebabkan sianak terbelah,  contoh sederhana pembelaan ayah terhadap anak, saat dimarah oleh ibu atau sebaliknya pembelaan ibu terhadap anak, saat dimarah oleh ayah, pembelaan nenek terhadap cucunye yang kene marah dan sebagainye.  Pertanyaannya apakah salah ayah membela sianak? Atau apakah salah ibu membela sianak? Atau apakah salah nenek atau kakek membela cucunye? Kite pasti sepakat jawabannya tentu tidak, tapi yang salah menurut hemat penulis adalah caranya.
Hal tersebut bermakna, kalau salah satu orang tua tidak mampu bersikap, buat sementara lebih baik diam, mendengarkan pihak lain bicara. Jangan sampai terjadi kesalahan sianak yang akan dibahas, malahan melebar kemana-mana menjadi pertengkaran orang tua, sianak melenggang bebas tanpa solusi begitu seterusnye, dan ingat hal tersebut pelajaran terbaru dalam otak sianak, untuk mengkotak-kotakkan pendidik.
Contoh berikut dapat dijadikan salah satu ilustrasi, waktu itu beberapa tahun yang lalu, kemenakan penulis hen sedang berlibur kerumah, waktu itu aji kire-kire umur 2 tahun lebih sedang lasak-lasaknye, die sangat aktif berlari disela sela kursi, memanjat, main laptop dan sebagainye, biasalah anak-anak kalau diam aje perlu dipertanyekan kecuali anak mundu[3].  
Entah bagaimane awal ceritenye saat itu penulis sedang membace koran seperti biasenye,  tau-tau sudah terdengar ayah aji marah, tak seperti biase die semarah itu dan si ajipun tegopoh gopoh lari kepelukan penulis, setelah hen kemenakan penulis becakap menegur kesalahan anaknye baru penulis berucap, “ ngape aji tadi mmm, besok jangan buat lagi…” sambil memeluk dan menggoyangkan badannye yang bulat seperti biase.
Pada kesempatan yang lain kadang kadang die terantuk, penulis mengatekan hati-hati…siapelah menyerakkan mainan tadi, sampai terjatuh orang ganteng ni ucap penulis berulang ulang (penulis pura-pura tidak tau), sambil meminggirkan mainan yang berserak, biasenye sambil menghapus air mate, die akan menggapai penulis dan  menunjuk dirinye sendiri.
Contoh diatas merupekan beberape kejadian yang sering pendidik (khususnya orang tua) maupun orang terdekat di lingkungan si anak dalam menghadapi anak yang melakukakan kesalahan, tanpa sengaja kemudian ditanggapi dengan cara yang salah dengan maksud (mungkin) supaya anak jangan malu, atau menangis, akhirnya menjadi pembiasaan pada sianak untuk cendrung menyalahkan orang lain atas perbuatannye sendiri dalam pepatah melayu dikatekan “lempar batu sembunyi tangan”. Kejadian demi kejadian tersebut akan terekam pada long term memorynya, yaitu membenarkan yang salah atau tidak apa-apa kalau berbuat salah karena ade orang lain yang akan disalahkan.
Pembiasaan pada sianak tersebut berkemungkinan besar berlanjut hingga sianak remaja, hingga dewasa saat mereka menjadi bahagian dari sistem di masyarakat dan selamanya mereka tidak terbiasa berpikir, seperti pepatah orang-orang tua dulu “ alah bisa karena biasa” kemudian ditambah lingkungan yang mendukung, mengakibatkan hal tersebut menjadikan suatu pembenaran. Dengan demikian jangan heran berbagai permasalahan yang tidak pakai henti dan tidak mampu disikapi secara arif, tidak bisa dilepaskan dari berbagai contoh kasus yang nampaknya sederhana  diatas.
Gambaran diatas sangat sesuai dengan pepatah orang melayu yang mengatekan “dari kecik teranjak anjak, sudah besar tebawak-bawak, sudah tue berubah tidak”. Pepatah tersebut menurut penulis menggambarkan perilaku seseorang yang sudah terbiasa tidak diajarkan bertanggung jawab sejak kecil, dibiarkan saja kalau berbuat salah dengan berbagai alasan oleh pendidik, yang akhirnye akan menjadi masalah saat die mulai tumbuh besar, yang mula-mula merusak tatanan mikro kemudian tidak menutup kemungkin akan terbawa ke tatanan makro yaitu masyarakat dalam tatanan luas. 
Berikut penulis ingin menyajikan intisari salah satu dongeng (judulnye penulis sudah lupe), yang dibacakan ayah penulis (alm) H. Raja Muda Depang dan mak penulis (almh) Hjh. Tengku Sribanun,  puluhan tahun yang lalu sebagai pengantar tidur, saat penulis kecil dulu di Selat Panjang, berikut intisari nye yang cube penulis ingat, mudah-mudahan bisa jadi pembelajaran bagi kite:   
Suatu hari dikisahkan ade seorang anak yang semue kehendaknye diturutkan oleh orang tue, semakin sianak besar kebutuhannye tidak mampu dipenuhi lagi oleh orang tue. Sianak mulai melakukan tindak kejahatan kecil-kecilan, mula-mula dia mencuri yang kecil seperti korek api, rokok namun orang tue membiarkan atau memaafkan. Kemudian berlanjut bertahun-tahun sampai yang besar, sampai akhirnye pihak kepolisian sudah mencium kejadian tersebut.
Suatu hari dikisahkan setelah aksi kejar-kejaran, die tercebur kedalam sungai, kemudian tertangkap oleh polisi, saat dia akan dibawa kekantor polisi, die memohon agar di jumpekan dengan ayahnye, polisipun mengabulkannye dengan pengawalan ketat. Setelah sampai dirumah dengan tangan yang diborgol sianak langsung mendekati ayahnye yang terkejut seakan tidak percaye, kemudian sianak menggigit telinge sang ayah sambil berkate, “itulah ayah, tidak pernah mendidik aku dari kecil”, kemudian polisi membawe die ketahanan untuk mempertanggung jawabkan kesalahannnye.

Sekianlah
Pekanbaru, 9 April 2013 s.d 12 Mei 2013



[1] Biodata Singkat. Dra. ASMIDA, M. Pd adalah Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta; S-1 bidang Pendidikan Matematika, FKIP UNRI, 1988; S-2 bidang Pendidikan Matematika, UPI Bandung, 2009; Sekarang bertugas sebagai Staf Bidang Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru; Pemilik dan Pendiri L2PTS; Hobbi menulis cerpen dan dongeng dimulai sejak tinggal di Bandung, disedikit waktu senggang yang dimilki diantara kesibukan sebagai mahasiswa tugas belajar Magister Bidang Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kumpulan cerpen dengan cover “Sepetang Hatiku” dan beberape dongeng diantaranya “Kucing dan Harimau”, “Kancil dan anak Harimau”, “Pak Handi dan Mak Handi” sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com. Selain menulis cerpen dan dongeng, penulis juga menulis al: “Modul Integral Untuk Anak Paket C” sejak tahun 2009 akhir dan selesai tahun 2012, dimana modul ini  merupakan edisi revisi dari beberapa modul Matematika dan Integral yang ditulis sewaktu penulis masih menjadi pendidik, salah satu sub sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com dan http://learningcenterasmida.blogspot.com. Terbaru sejak tahun 2010 sampai tahun 2012, menulis buku untuk Kelompok Bermain Salah satu sub buku sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com/2012/06/dra-asmida-m-pd-matematika-sebagai-ilmu.html; Selain itu juga menulis artikel lepas, kumpulan artikel dengan cover “ Pekanbaru Menuju Kota 2 M?” sudah dipublikasikan secara terpisah di http://l2pts.blogspot.com; Hobbi lainnya al: fhotografi, menggambar abstrak, seni ukir, traveling, mendengarkan musik. Tahun 2013 aktifitas lainnya selain menulis cerpen, artikel lepas serta hobi lainnya, juga menulis materi tentang Irisan Bidang dengan Bangun Ruang, yang merupakan revisi dari modul sebelumnya, beberape bahagian sudah di publikasikan di  http://learningcenterasmida.blogspot.com.
 
[2] Drs. Sudarsono, SH., M.Si, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar (Jakarta: Rineka Cipta, 2008) h. 140.
[3] Mundu istilah alm makku Hj. Tengku Sribanun menyebutkan kundu atau kundur sejenis sayuran yang diam tak bergerak disudut dapur.

Rabu, 24 April 2013

Dra. ASMIDA, M. Pd; Dongeng :Pak Handi dan Hantu Kambeh


Dongeng Anak Melayu Riau
Judul: Pak Handi dan Hantu Kambeh[1] (bahagian ke 2/Tamat)

Oleh:
Dra. ASMIDA, M. Pd[2]

Ringkasan cerite sebelumnye

Pada kisah sebelumnye tentang pak handi dan mak handi  telah di ceritekan tentang pak handi yang pemalas dan menyalahkan kucing yang telah memakan gulai sempedas ikan yang dicampur dengan kambeh dengan menelungkupkan kuali kekepale kucing, akibat ulah pak handi itu kucing yang tak bersalah dibuang oleh mak handi dari rumah, kucingpun bersedih dan meninggalkan mak handi yang tidak tau cerite sebetulnye. Namun begitu kucing tidak marah dengan mak handi die tau mak handi baik dan sangat penat balek dari bekerje sedangkan pak handi hanye bermalas-malasan.

Walau sudah terlambat akhirnye mak handi tau juge perangai tak baik pak handi yang telah berbohong dan menyalahkan kucing, diepun menyesal tak mengkoreksi dulu sebelum menghalau kucing yang telah lame bersame mereke dirumah ladang. Mak handi sangat marah dengan pak handi lakinye, “itulah jangan manai[3], bekerje, banyak ladang orang yang perlu tenage untuk menebang, menebas untuk bukak ladang” ujar mak handi panjang lebar. Pak handi memang tak dapat becakap lagi, memang die sangat salah dengan mak handi yang udah mati-matian bekerje supaye dapur mereke tetap berasap, diepun mengaku salah telah menuduh kucing makan lauk satu kuali, padehal sebetulnye dielah kucing kepale hitam seperti yang dicakap bininye[4] tadi. Setelah kejadian itu pak handi lebih rajin dari biasenye, die sadar sudah banyak salah dan menyusahkan mak handi.
Setelah beberape hari pak handi mulai merasekan perutnye mulai sakit, ade yang mengganjal diperut tapi tak bisa dikeluarkan, perutnye mulai melilit lilit tapi die tak bercerite dengan mak handi, semakin hari semakin sakit, pak handi sudah mulai tak nyaman karena sudah lame tak teberak[5] sebab tidak bisa. Pak handi mulai risau, badannye mulai panas dingin mendemam, die sudah tidak bisa berjalan seperti biase karene ade yang tertahan diduburnye. Setelah beberape hari tidak ade perubahan pak pandipun tak sanggup lagi bertahan, diepun mencari alasan untuk permisi dengan bininye mak handi, akhirnye pak handipun dapat akal mau pergi dari rumah untuk bekerje di kapal dagang yang kebetulan baru berlabuh disungai.
Pak handi: mak handi, mulai petang ini aku akan pergi agak lamo untuk bekerje di kapal dagang yang baru sampai semalam, tempatnye jauh diujung kampung kite ini.
Walau agak curiga, mimpi ape pak handi caga[6] menolong orang di kapal piki mak handi, tapi die setuju pak handi bekerje di kapal dagang sementare menunggu mase menuai padi beberape bulan lagi.
Mak handi: Iyelah pak handi, kalau sudah selesai menolong orang dagang tu cepat balek.
Pak handi: Iyelah mak handi, kalau sudah selesai aku langsung balek.
Pak handipun dengan sesak napas dan perut yang sakit cepat-cepat pergi meninggalkan rumah mereke ditepi ladang dan berpurak-purak menuju ke kapal dagang yang berlabuh di tepi sungai, saat hari sudah mulai gelap barulah pak handi berjalan menuju ujung ladang dan tinggal disitu.
Diujung ladang itulah pak handi tinggal sambil menahan sakit dan berusahe supaye dapat teberak, rupenye tak berhasil juge akhirnye pak handipun jatuh pingsan untuk sekian lame. Saking lamenye tak sadar badan pak handipun telah ditutupi oleh pokok kambeh yang akhirnye mulai berbuah.
Pade suatu hari lewatlah beberape orang pedagang yang membawe dagangannye berupe kain, baju serta bahan dagangan lain untuk mereke jual, melihat buah kambeh yang banyak dan sangat lebat merekepun tertarik dan berebut mengambilnye, saking congok[7]nye pedagang-pedagang itu sampai-sampai buah kambeh yang didasar tanahpun dan tersembunyi dicabutnye dengan keras, sebab yang satu ini paling payah mengambeknye tapi itu pulak buah kambeh yang paling besar, setelah berape kali mencari cari akarnye akhirnye dapat juge buah kambeh tu. Tapi para pedagang itu tidak tau dan tidak menyadari mereka telah mencabut akar pokok kambeh yang ade didubur pak handi.
Pak handi: (bagai terbangun dari tidur panjang) tepekik telolong[8] menjerit kesakitan.
Mendengar suare itu para pedagang kainpun berhamburan melarikan diri sambil berteriak-teriak ketakutan.
Pedagang: hantu kambeh..... hantu kambeh....... hantu kambeh..............ujar pedagang berlarian ketakutan, mereke tidak lagi memikirkan barang-barang bawaannye semue berceceran.
Setelah kejadian itu pak handipun lege karene yang mengganjal sudah keluar, setelah membersihkan badan, dan mengganti pakaian pak handipun mengumpulkan seluruh barang dagangan para pedagang yang tertinggal kemudian saat hari hampir malam pak handipun balek kerumahnye dengan bergaya seolah-olah dari tempat jauh dengan barang dagangan yang banyak.
Pak handi: cepat mak handi tolong aku membawak masuk barang-barang ni, dikapal masih banyak nanti mau aku jemput lagi.
Mak handi: di kapal mane pak handi letakkan barang-barangnye.
Pak handi: Kapal aku tambatkan diujung ladang, sekarang aku mau mengambil barang yang lainnye.
Walau agak heran dengan ucapan pak handi, tapi mak handi maklum mungkin pak handi sangat penat jadi salah sebut apelagi begitu banyak barang yang dibawaknye. Setelah pak handi mengambil semue dagangan yang masih tersise, merekepun mulai sibuk mencube semue baju yang baru, dengan sombongnye pak handi membuang semue baju yang buruk-buruk.

Tamat
Pekanbaru, 24 April s.d 25 April 2013.




[1] Mulai ditulis tgl 26 November 2011, kemudian direvisi pade tgl 24 April 2013, selesai 25 April 2013.
[2] Biodata Singkat. Dra. ASMIDA, M. Pd adalah Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta; S-1 bidang Pendidikan Matematika, FKIP UNRI, 1988; S-2 bidang Pendidikan Matematika, UPI Bandung, 2009; Sekarang Bertugas Sebagai Staf Bidang Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru; Pemilik dan Pendiri L2PTS; Hobbi menulis cerpen dan dongeng dimulai sejak tinggal di Bandung, disedikit waktu senggang yang dimilki diantara kesibukan sebagai mahasiswa tugas belajar Magister Bidang Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kumpulan cerpen dengan cover “Sepetang Hatiku” dan beberape dongeng diantaranya “Kucing dan Harimau”, “Kancil dan anak Harimau”, “Pak Handi dan Mak Handi” sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com. Selain menulis cerpen dan dongeng, penulis juga menulis al: “Modul Integral Untuk Anak Paket C” sejak tahun 2009 akhir dan selesai tahun 2012, dimana modul ini  merupakan edisi revisi dari beberapa modul Matematika dan Integral yang ditulis sewaktu penulis masih menjadi pendidik, salah satu sub sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com dan http://learningcenterasmida.blogspot.com. Terbaru sejak tahun 2010 sampai tahun 2012, menulis buku untuk Kelompok Bermain Salah satu sub buku sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com/2012/06/dra-asmida-m-pd-matematika-sebagai-ilmu.html; Selain itu juga menulis artikel lepas, kumpulan artikel dengan cover “ Pekanbaru Menuju Kota 2 M?” sudah dipublikasikan secara terpisah di http://l2pts.blogspot.com; Hobbi lainnya al: fhotografi, menggambar abstrak, seni ukir, traveling, mendengarkan musik. Tahun 2013 aktifitas lainnya selain menulis cerpen, artikel lepas serta hobi lainnya, juga menulis materi tentang Irisan Bidang dengan Bangun Ruang, yang merupakan revisi dari modul sebelumnya, di publikasikan di  http://learningcenterasmida.blogspot.com.
  
[3] Manai bahase melayu Selat panjang artinye sangat pemalas
[4] Bininye bahase melayu Selat panjang artinye istrinye
[5] tak teberak bahase melayu Selat panjang artinye tak kebelakang untuk buang air besar.
[6] Caga bahase melayu kota lame artinye rajin.
[7] Congok bahase melayu Selat Panjang untuk menyatekan rakus.
[8] tepekik telolong bahase melayu Selat Panjang untuk menyatekan kesakitan yang luar biasa.

Selasa, 23 April 2013

Dra. ASMIDA, M. Pd; Cerpen: Entahlah pening


Cerpen[1]
Judul: Entahlah pening
Oleh:
Dra. ASMIDA, M. Pd[2]

Tidak ade yang perlu dikomentari ujarku pade pak mail yang heran melihat reaksiku saat semue orang sibuk berkomentar berbagai kejadian di negeri ini seperti mulai melambung nye harga bawang putih dan bawang merah dipasaran, perebutan menjadi ketua umum partai, masalah banjir yang masih mengintai di berbagai daerah, belum lagi masalah ujian nasional yang dari tahun ke tahun bagai tak henti menuai masalah dan berbagai masalah yang bagai tak habis-habisnye merupakan topik berita yang menambah suhu politik semakin menghangat, kejadian-kejadian tersebut tidak mampu disimak berbagai kalangan apepun statusnye dengan penilaian yang mendekati objektif.
Berbagai macam tanggapan umumnye hanye berdasarkan perasaan masing-masing tanpa memikirkan pandangan kedepan, yah…itulah pendapat umum, yang ujung-ujungnye ke menggosip. Penat pak…, dari dulu itu aje yang dipermasalahkan tapi kenyataannye? Ujarku dengan jawaban menggantung membuat pak mail mengangguk-angguk mencoba memahami jawabanku, die termasuk tau bagaimane aku yang memang tak banyak becakap kalau tak penting-penting betul.
As memang gitu ujar kak enda yang tibe-tibe dengan gaya khasnye sudah didepan mate kami, kemudian die malanjutkan memang sejak dulu macam itu kalau tak penting ye tak becakap, paling senyum sambil terus kerje, pokoknye ade aje yang dikerjekannye, aku senyum aje mendengar komentar salah seorang sahabat dekatku itu. Iye memang, as tu kalaupun berkomentar pasti menelaah dalam berbagai sudut pandang kate mbak ira yang baru menyelesaikan makan siangnye.
Suare mesin warga belajar di lpkmb2f terdengar sayup-sayup dari sekretariat lentera membuat lamunanku beberape saat dikursi malas terhenti, akhir-akhir ini aku lebih banyak beraktivitas di lentera. Rupenye sudah ade warga belajar yang datang begitu pule suare sang instruktur yang sedang membimbing warga belajarnya yang sudah mulai kewalahan karena materi pelajaran semakin sulit.
Aku bergerak menuju ruang depan, diluar cuace mulai mendung, perlahan rintik-rintik hujan mulai menyapa kota panas yang semakin gelap diiringi suare petir yang kuat, aku cepat-cepat mematikan BB ku walau ade BBM dari siti yang belum aku bace. Pasti ade sesuatu pikirku, nantilah aku hubungi langsung aje pikirku, lagian aku kurang suke ber BBM ria.
Maaf tadi sengaje aku matikan BB, disini udah due hari hujan lebat sudah tu petir kuat betul, kami semue dikantor tekejut tadi. Ya Allah ngeri bunyinye, kau tau tak kemaren ade beberape orang kene tembak petir saat sedang berteduh waktu balek bekerje, ade juge yang kene tembak petir saat sedang memancing salah satunye keluarga kawan saye yang polisi ujarku panjang lebar saat menelpon ulang siti yang sekarang bertugas diluar pulau jawa mengikuti suaminye yang sudah duluan kesane.
Ya bu, paham aku, dah hapal….ibu tukan memang macam tu dari dulu, sikit aje mulai gelap udah sibuk mematikan hp apelagi petir jawab siti diujung telp kemudian kujawab hehehe…biaselah anak baik hehehe ape cerite, memang awak dah mulai bertugas, tanyeku yang dijawab siti setelah beberape saat dengan “sudah” tidak seperti biasenye.
Mengape melemah macam tu? Ujarku penasaran. Kasihan pendidikan budak-budak[3] daerah diluar jawa ini bu as, tidak seperti di Jawa yang fasilitasnye lengkap begitu juge dengan guru-guru yang secara umum berkualitas, aku terbayang dan teringat kate-kate ibu saat tidak setuju diadekannya Ujian Nasional (UN) beberape tahun lalu, inilah salah satu sebabnye yang aku jumpe sekarang, ujar siti terdiam sesaat. Sit jangan salah sampai sekarangpun saye tak setuju kalau untuk kelulusan tapi saye setuju kalau  dijadikan salah satunye ajang untuk melihat pemetaan pendidikan di negara kite ni jawabku, kemudian siti melanjutkan ceritenye, iye aku paham dan semakin paham kemarahan ibu dulu tu saat aku sudah di daerah seperti ini dan aku yakin daerah lainnye hampir senasib. Dulu aku tidak sampai kepola pikir ibu waktu itu.
Sekarang cubelah tengok, baru taukan keadaan diluar jawa sekarang, saye sudah menengoknye sejak puluhan tahun yang lalu saat itu kau mungkin baru lahir. Betape banyak anak-anak yang pergi sekolah dengan tak bekasut[4], apelagi membeli buku, mereke datang kesekolah setelah menolong orang tue di ladang, aku termasuk yang membujuk mereke untuk sekolah dan ikut menjadi tenaga pengajar di salah satu daerah yang katenye kaye tu. Ungtunglah sekarang sudah otonomi daerah jadi pendidikan sudah berangsur nampak titik terang tapi sayangnye itulah. Oh iye tapikan tak separah saye dulu tak, masih ingat awak cerite tu.
Iye aku ingat ibu waktu itu mengajar murid-murid yang telah menunggu di ruang belajar yang sangat tidak layak dengan sebuah papan tulis usang dan sebuah buku pegangan, ujar siti mengingatkan perjuangan aku dan beberape kawan waktu itu. Kau masih ingatkan care aku naik ke lantai atas untuk mendidik murid-murid aku yang semangat itu? Tak akan pernah saye lupe sampai kapanpun semangat ibu dan tak tebayang oleh saye seandainye saye pade posisi ibu waktu itu. Bu as walau tak separah zaman ibu, namun sekarangpun masih ade kondisi seperti itu mungkin konteksnye aje yang agak berbeda sikit, yah…  macam mane hasil nak baik, itu pulak nak dibandingkan dengan kota besar  ujar siti yang kujawab entahlah pening.

Sekianlah
Pekanbaru, 20 April s.d 23 April 2013.


[1] Terinspirasi dari kacau balaunya pelaksanaan UN tingkat SMA tahun 2013
[2] Biodata Singkat. Dra. ASMIDA, M. Pd adalah Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta; S-1 bidang Pendidikan Matematika, FKIP UNRI, 1988; S-2 bidang Pendidikan Matematika, UPI Bandung, 2009; Sekarang Bertugas Sebagai Staf Bidang Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru; Pemilik dan Pendiri L2PTS; Hobbi menulis cerpen dan dongeng dimulai sejak tinggal di Bandung, disedikit waktu senggang yang dimilki diantara kesibukan sebagai mahasiswa tugas belajar Magister Bidang Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kumpulan cerpen dengan cover “Sepetang Hatiku” dan beberape dongeng diantaranya “Kucing dan Harimau”, “Kancil dan anak Harimau”, “Pak Handi dan Mak Handi” sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com. Selain menulis cerpen dan dongeng, penulis juga menulis al: “Modul Integral Untuk Anak Paket C” sejak tahun 2009 akhir dan selesai tahun 2012, dimana modul ini  merupakan edisi revisi dari beberapa modul Matematika dan Integral yang ditulis sewaktu penulis masih menjadi pendidik, salah satu sub sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com dan http://learningcenterasmida.blogspot.com. Terbaru sejak tahun 2010 sampai tahun 2012, menulis buku untuk Kelompok Bermain Salah satu sub buku sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com/2012/06/dra-asmida-m-pd-matematika-sebagai-ilmu.html; Selain itu juga menulis artikel lepas, kumpulan artikel dengan cover “ Pekanbaru Menuju Kota 2 M?” sudah dipublikasikan secara terpisah di http://l2pts.blogspot.com; Hobbi lainnya al: fhotografi, menggambar abstrak, seni ukir, traveling, mendengarkan musik. Tahun 2013 aktifitas lainnya selain menulis cerpen, artikel lepas serta hobi lainnya, juga menulis materi tentang Irisan Bidang dengan Bangun Ruang, yang merupakan revisi dari modul sebelumnya, di publikasikan di  http://learningcenterasmida.blogspot.com.
 
[3] Budak-budak dalam bahase melayu artinye anak-anak.
[4] Bekasut dalam bahase melayu artinye sendal atau selop.